Merenung Sampai Mati

Lelah mendengar kengerian bom, dan berita-berita yang diiringi latunan imaginasi John Lenon, aku mulai merenung tentang sebuah rumah mungil yang aku pikir ada di dalam pojokan jiwaku. Aku coba memasukinya kembali dengan potongan kunci yang mulai berkarat.

Bukan_kemewahan_ini Tak ada kemewahan, tak ada sanjungan. Hanya ruangan kosong dan dinding-dinding yang terbuat dari cermin. Aku tebarkan pandangan ke setiap sudutnya, Subhanallah….ada ribuan mahluk sepertiku yang menjawab salamku. Mereka tersenyum ketika aku berbagi sedikit senyum. Mereka juga tak keberatan ketika aku mengulurkan tangan, tak ada satupun dari mereka yang menolak.

Aku mulai mempercayai mereka, mulai bercerita tentang segudang permasalahanku.

Menyebalkan, mereka bukannya mendengarkan ceritaku apalagi memberi solusi tapi malah ikut bercerita. Keluhanya juga sama. Akupun mulai merasa dilecehkan. Hatiku dongkol dan mulai menggerutu, “dasar mahluk-mahluk menyebalkan!!!”, mereka juga menggerutu sepertiku. Akupun marah dan memaki-maki mereka. Tiba-tiba ribuan mahluk itu juga memaki-maki aku.

Setelah lelah dengan makianku, aku terdiam dan mulai menenangkan diri. Aku coba merendah dan meminta maaf, dan kamipun saling memaafkan serta berbagi senyum kembali.

Wahai jiwaku, jika engkau memaki pelaku atau korban tragedi apapun, bersihkanlah kaca-kaca cermin itu, dan marilah kita bercermin bersama dan berbagi senyuman, karena sesungguhnya ribuan perilaku orang di sekitar kita seringkali adalah cerminan dari perilaku kita.

Leave a Reply