Archive for October, 2005

Ujian Itu Datang Di Titik Lemah

Tuesday, October 4th, 2005

Bismillah16_1 Ternyata waktu ujian itu tidak pernah lebih panjang daripada waktu belajar, Tapi sayangnya seringkali kita tak sabar menghadapi ujian, seakan sepanjang hari hanya ujian dan ujian, sangat sedikit waktu untuk belajar. Ujian kesabaran, keikhlasan, keteguhan dalam beramal lebih sedikit waktunya dibanding berbagai kenikmatan hidup yang kita rasakan.

Nampaknya Allah menguji kita mulai dari titik yang paling lemah. Menjelang jumatan datang pelanggan ke toko misalnya atau ketika hendak berangkat sholat berjamaah datang relasi bisnis, atau hal lain yang serupa.Tapi kalau kita bisa melewatinya dengan azam yang kuat, akan seperti kapal pemecah es. Bila diam salju itu tak akan menyingkir, tetapi ketika kapal itu maju, sang salju membiarkannya berlalu. Kita harus menerobos segala hal yang pahit seperti anak kecil yang belajar puasa,Mau minum tahan dulu sampai maghrib. Kelezatan, kesenangan dan kepuasan yang tiada

tara

, karena sudah berhasil melewati ujian dan cobaan sepanjang hari.

Karena itu mari melihat dimana titik lemah kita. Bila kita bersabar melawan rasa gerah terhadap ujian yang datang, pertarungan mungkin hanya satu dua kali, sesudah itu tinggal hari-hari kenikmatan yang luar biasa yang tak tergantikan.

Merenung Sampai Mati

Saturday, October 1st, 2005

Lelah mendengar kengerian bom, dan berita-berita yang diiringi latunan imaginasi John Lenon, aku mulai merenung tentang sebuah rumah mungil yang aku pikir ada di dalam pojokan jiwaku. Aku coba memasukinya kembali dengan potongan kunci yang mulai berkarat.

Bukan_kemewahan_ini Tak ada kemewahan, tak ada sanjungan. Hanya ruangan kosong dan dinding-dinding yang terbuat dari cermin. Aku tebarkan pandangan ke setiap sudutnya, Subhanallah….ada ribuan mahluk sepertiku yang menjawab salamku. Mereka tersenyum ketika aku berbagi sedikit senyum. Mereka juga tak keberatan ketika aku mengulurkan tangan, tak ada satupun dari mereka yang menolak.

Aku mulai mempercayai mereka, mulai bercerita tentang segudang permasalahanku.

Menyebalkan, mereka bukannya mendengarkan ceritaku apalagi memberi solusi tapi malah ikut bercerita. Keluhanya juga sama. Akupun mulai merasa dilecehkan. Hatiku dongkol dan mulai menggerutu, “dasar mahluk-mahluk menyebalkan!!!”, mereka juga menggerutu sepertiku. Akupun marah dan memaki-maki mereka. Tiba-tiba ribuan mahluk itu juga memaki-maki aku.

Setelah lelah dengan makianku, aku terdiam dan mulai menenangkan diri. Aku coba merendah dan meminta maaf, dan kamipun saling memaafkan serta berbagi senyum kembali.

Wahai jiwaku, jika engkau memaki pelaku atau korban tragedi apapun, bersihkanlah kaca-kaca cermin itu, dan marilah kita bercermin bersama dan berbagi senyuman, karena sesungguhnya ribuan perilaku orang di sekitar kita seringkali adalah cerminan dari perilaku kita.